Komen Drakor : The Red Sleeve

Serial drama era kerajaan ini punya sudut pandang yang jarang diangkat oleh serial serupa. Menunjukan sisi lain dari istana yang jarang disambangi. Yaitu tempat para pelayan.

Pemain anak-anaknya manteb-manteb sekali aktinya.

Nilainya : 3/5

Masih belum paham ama sinopsinya. Ditulis bahwa si tokoh utama cewek seorang pelayan istana yang diminta jadi selir oleh raja.

Tapi itu sinopsinya nge spoiler. Karena dia jadi selirnya itu di 2 eps terakhir. Bahkan si tokoh utama cowoknya jadi raja selepas eps 10 padahal total eps nya 17.

Jadi rasanya nonton itu kaya udah tahu ujungnya nanti pasti si tokoh utama cewek diangkat jadi selir. Pasti si tokoh utama cowok jadi raja. Jadi ga ada ketegangan. Atau ga ada yang dipertaruhkan karena udah tahu ujungnya.

Aku bingung kenapa sinopsinya ditulis gitu. Ga ditulis : ‘Kisah cinta seorang Putra Mahkota dengan seorang Pelayan Istana’. Apa terlalu umum dan klise? Tapi bukankah itu jauh lebih baik dari pada ngasih tahu keseluruhan plotnya.

Sedang alur ceritanya sendiri ga kaya alur cerita serial drakor pada umumnya.

Serial ini punya beberapa babak, tapi ga punya klimak yang bener-bener klimak. Jadi kaya serial slice of life dengan kasus per beberapa eps gitu.

Cuma bedanya yang ini semacam perjalanan hidup.

Mungkin karena diadaptasi dari sebuah Novel, yang memang ga punya formula cerita tipikal serial drama.

Tapi memang beberapa serial drakor yang disadur dari Novel yang pernah ku tonton, apa lagi yang era kerajaan,  punya formula yang mirip kaya gini.

Moon Lovers Scarlet Heart salah satunya. Kalau aku ga salah inget. Ama Kingmaker.

Sedang untuk kisah pergolakan memperebutkan tahta ga terlalu mengambil peran. Serial ini lebih condong ke drama kehidupan tokoh utama serta roman percintaan dalam batasan kasta dan status.

Banyak ngebas tentang doktrin, pemahaman, serta sudut pandang tentang seorang abdi pada paruh pertamanya. Karena pada dasarnya isu perbedaan derajad dan golongan ini memang jadi pilar dari keseluruhan cerita.

Dan meski masih menggunakan format romance pada umumnya, tapi kisah cintanya tidak terlalu mengalau ga jelas. Atau terlalu bertele-tele.

Percintaan kedua tokoh utamanya baru mulai berkembang dan jadi inti cerita setelah eps 10 dimana si tokoh utama cowoknya jadi raja. Karena sebelum itu, cerita di dominasi ama drama kehidupan kedua tokoh utamanya.

Dan juga jarang ada adegan romantis ala-ala genre romance pada umumnya. Kebanyakan adegan romantisnya sederhana. Tapi cukup mengena.

Bahkan first kissing scene nya aja ada di akhir eps 14.  Yang berarti 3 eps sebelum tamat.

Aku sedikit ngerti sih, alasan kenepa si cewek terus nolak sang raja. Itu karena dia harus mengorbankan seluruh hidupnya bila jadi seorang selir.

Memang mencintai orang dengan status ‘luar biasa’ itu berat. Apa lagi bukan yang ‘sah’. Lebih ga masuk akal beratnya.

Dan aku ga setuju kalau ada yang bilang sang raja juga sudah berkorban buat si cewek. Karena itu ga sepadan. Kalau memang mau sepadan, sang raja harus mau melepas tahtanya.

Karena status sang raja lah yang merenggut hal berharga milik si tokoh utama cewek. Yaitu kebebasannya.

Sang raja nya itu egois. Meski ga salah juga egois dalam masalah percintaan.

Terus itu di akhiran eps, sang raja ga milih cewek yang mirip almarhum istrinya itu bukan cuma karena dia ga mau kebayang-bayang terus. Tapi dia inget permintaan terakhir almarhum istrinya. Kalau dia liat si istri di kehidupan berikutnya, minta untuk dilewati aja.  😥

Aku suka ketika sebuah cerita mencoba menyiratkan sesuatu tanpa coba buat kasih penjelaskan.

Terus juga punya beberapa adegan teatrical yang cukup dramatis. Bahkan menggunakan ungkapan dan kata berkhiasan ala-ala novel. Yang pinternya ungkapan dan kata-kata itu tadi digunakan untuk adegan yang memang sedang bercerita. Jadi ga terasa maksa atau aneh didengar.

Dan meski ga sampai melodrama atau sedih banget, tapi adegan-adegan pilubya cukup menyentuh dan bikin mewek.

Sedang untuk karakternya, banyak yang ditulis dengan bagus. Ga heran juga karena ini memang adaptasi dari sebuah novel yang cenderung character-centric ketimbang mementingkan adegan roman atau aksi.

Dan juga diperankan dengan baik pula oleh artis dan aktornya.

Sedang untuk endingannya sendiri aku cukup suka. Dibuat ambigu antara sang raja nya mati dan secara metafora hidup dalam ingatan terindahnya, atau sebenarnya semua yang kita liat di eps 17 itu adalah mimpi sang raja dari eps sebelumnya.

Hal itu mungkin sengaja dibuat supaya endingnya ga terasa bland atau anti climax.

Dan yang terakhir, serial ini kaya kasih gambaran bahwa kita akan dan pasti mengambil keputusan berdasar emosi. Dan bila semua ga sesuai dengan rencana, maka beradaptasilah dengan keadaan dan berusahalah buat hidup dengan sebahagia mungkin. 🙂

Oh, dan juga di serial ini berdeham adalah kode universal untuk nyuruh pergi atau bergegas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.