Komen Drakor : River Where The Moon Rises

Setting kerajaan dalam serial ini ga kaya yang biasa dipake dalam serial drakor se-genre yang pernah ku tonton selama ini. Eranya kaya jauh lebih kuno lagi. Dan lebih ke fantasi gitu.

Dan serial ini ganti pemeran tokoh utama cowok tepat di tengah-tengah serial sedang berlangsung.  Jadi awal-awal rada aneh nontonnya.

Sangar bener emang netizen korea. Bisa maksa ganti pemeran di tengah jalan. Ga kalah sama netizen indo.

Nilainya : 3/5

Bercerita tentang seorang putri yang hilang ingatan terus jadi assassin, abis gitu inget, terus jadi putri lagi, yang kemudian mencoba menjatuhkan orang jahat yang ada dalam istana.

Serial ini diisi ama pergolakan kekuasaan dan politik dalam sebuah negara. Ada banyak kubu yang mencoba untuk saling menjatuhkan. Yang penuh dengan intrik dan strategi.

Alurnya bergerak kadang cepet kadang lambat. Jadi so-so gitu. Cuma progress ceritanya tetep kelihatan. From Zero to Hero.

Jagoannya dari yang awalan sering kejebak tipu-tipu lawan, lama kelaman jadi pinter dan berhasil nipu balik si lawan. Aku suka cerita kaya gini.

Tokoh utama ceweknya lebih dominan dalam cerita meski judul buku sadurannya nama dari si tokoh utama cowoknya. Alias ‘Tale of On Dal’.

Karakter cewek ini ditulis cerdas, berani, dan strategis. Oh ya, dan juga mantan assassin. Jadi jelas jago silat.

Sementara karakter utama cowoknya tiba-tiba jadi berkurang porsinya dalam cerita setelah melakukan pergantian pemain di tengah jalan. Masih muncul sih, tapi dikit-dikit. Mulai dari diganti di eps 7 sampai eps 9 baru masuk lagi dalam cerita.

Mungkin karena masalah reshoot nya. Tapi malah jadi cara yang cukup ampuh kalau menurutku. Buat melupakan kesan dari aktor pertama dan membiasakan aktor yang baru ke penonton.

Karakter si tokoh utama cowok ini ditulis kebalikan dari si tokoh utama ceweknya. Orangnya santai, easy going, sedikit lemot, tapi kuat dan jago silat.

Tapi kalau kedua tokoh utama itu bersatu, baik di dalam istana maupun di medan perang, mereka jadi imba. :v

Namun sayang chemistry nya dengan si tokoh utama cewek jadi terasa kurang setelah pergantian aktornya. Setidaknya itu yang kurasa. Mungkin si artis ceweknya capek kali ya shooting adegan mesra yang sama 2 kali degan aktor yang berbeda. Karena kabarnya si pemeran cowok diganti pas proses shooting sudah kelar 95%.

Tapi karena dinamika hubungan 2 tokoh utama itu digambarkan lebih mirip suami istri yang sudah cukup lama nikah, jadi meski ga mesra-mesra banget, atau ga punya banyak adegan romantis yang uwu gitu, tetep ga jadi masalah.

Malah kada ngerasa gemes sendiri liat hubungan mereka yang kaya temen tapi mesra. 🙂

Terus rival si tokoh utama cowoknya ditulis generik. Alias tipikal cowok yang suka ama si cewek, karena ditolak jadi iri dan sakit hati, lalu jadi jahat. Cuma yang ini ditambah sedikit twist aja.

Tapi romansa karakter ini dengan karakter si mata-mata malah terasa lebih dapet feelnya ketimbang pasangan tokoh utamanya. Meski berakhir tragis.

Sedang karakter si mata-matanya sendiri ditulis apik dengan sifat yang mirip ama si tokoh utama cewek, tapi ga baik hati dan ga bisa silat. Dia juga digambarkan melakukan segala cara untuk bertahan hidup dan menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.

5 Eps terakhirnya diisi ama ketengangan dan aksi yang naik turun sampai ending.

Sedang endingannya sendiri kalau menurutku sih, ada di eps 17. Karena klimak, dan penyelesaian konflik ada di eps itu. Lengkap dengan matinya si antagonis, dan terbayar lunas semua dendam yang ada. Alias full circle.

Memang ga hepi ending. Tapi kalau dilihat dari struktur cerita, pasnya berhenti di situ.

Sedang 3 eps setelahnya itu mirip sebuah epilog yang jadi semacam short story tentang penutupan babak dari hubungan kedua tokoh utamanya.

Antagonis dan konflik baru nya hanya bertugas sebagai plot cerita. Ga bener-bener dibangun dengan baik seperti di eps sebelumnya. Ya, biar hepi ending gitu.

Terus diluar ceritanya, serial ini punya koreo duel pedang yang cukup indah. Adegan perangnya juga manteb. Berasa kolosalnya.

Si tokoh utama cewek udah kaya Mulan aja di medan perang.

Terus senengnya pake adegan timelapse dari malam ke pagi buat transisi waktu.

Dan juga suka banget pake background musik intents buat hampir di setiap adegan. Apa lagi pas mau kelar eps. Padahal adegannya ga begitu tegang atau bahaya. Dan ujungnya juga ga ada apa-apa. Tapi musiknya kaya musik mau klimak gitu.

Dan yang terakhir, artis cilik yang main jadi bocah warga desa itu manteb banget aktingnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.