Evangelion: 3.0+1.0 Thrice Upon a Time

Film penutup dari rangkaian proyek Rebuild of Evangelion ini punya ending yang tidak sedepresi ending versi-versi yang lainnya. Meski masih sama-sama absurd nya. ๐Ÿ˜€

Sebelumnya aku mau nulis sepintas tentang Evangelion. Bagi yang sudah tahu sih bisa skip aja.

Judul lengkap serial ini adalah Neon Genesis Evangelion. Tayang pertama kali tahun 1995. Serial Mecha yang bersetting di dunia distopia, karena serangan monster yang disebut dengan Angel. Dan untuk melawan mereka, dibuatlah robot raksasa yang dikendalikan oleh anak-anak.

Ya, kurang lebih seperti itu.

Punya 26 episode, yang 2 tahun kemudian muncul re-cap re-edit serial tersebut dalam format film berjudul Neon Genesis Evangelion: Death & Rebirth. Dan 4 bulan kemudian disusul dengan film ketiganya The End of Evangelion, yang bercerita tentang alternatif ending dari serialnya.

Tapi tetep aja bikin depresi.

Kemudian di tahun 2007 projek Rebuild of Evangelion pun dimulai. Yang terdiri dari empat film lepas yang menceritakan ulang kisah dari serialnya. Dengan perubahan drastis di tengah-tengah cerita. Yaitu di akhir film keduanya yang keluar di tahun 2009.

Dan setelah film ketiganya yang keluar pada tahun 2012, 9 tahun kemudian film terakhirnya pun akhirnya tayang juga. Yaitu film ke 3 tambah 1.

Dan kita mulai komentar tentang film ini.

Film ini dibuka dengan recap cerita dari film-film sebelumnya. Kemudian langsung disuguhi pertarungan sengit Unit 8 di kota Paris.

40 menit awal digunakan untuk menampikan kedepresian Shinji sang tokoh utamanya. Namun untungnya ga sampai bikin film jadi terasa berat. Itu karena masih diimbangi dengan adegan clone nya si Rei yang sedang menjalani hidup damai dan menghangatkan dengan orang-orang. Dan 2 adegan yang berbeda itu sengaja disajikan secara bergantian untuk menyeimbangkan tone film. 

Sampai kemudian penyeimbang itu direnggut. ๐Ÿ˜ฅ

Punya durasi 2 stengah jam karena sepertinya yang buat ga mau motong adegan sunyi yang memang sudah jadi ciri khas frences ini, seingatku, sih.

Cara penuturan dan narasinya masih se-absurd dan se-bizzare serial aslinya. Dengan alur cerita yang tidak kalah ruwet dan membingungkan. Pokoknya ciki khas eva banget lah.

Tapi ya mungkin itulah daya tarik serial ini. Dan memang ini bukan film untuk semua orang. Temanya yang berat dengan visual bergaya surreal nya itu adalah alasan terbesar mengapa ga banyak penonton kasual yang tertarik dengan frences ini. Meski design Eva nya sangar abis dan tarungnya badass.

Style gambarnya top abis. Karakter, lingkungan, gerakan, semua terlihat artistik dan enak dipandang. Landscape dystopian nya mantab. Aku suka dengan landscape pemukiman yang dipenuhi debris dari benda yang terlihat janggal di tempat itu. Keren aja gitu.

Dan yang terakhir, apakah ini adalah film penutup yang bagus untuk serial Evangelion? Menurutku sih, iya.

Film ini menutup kisah Evangelion baik secara narasi, maupun secara meta. Tapi mungkin akan ada beberapa orang yang tidak suka dengan ending dari serial ini. Aku bisa paham. Aku juga punya sedikit rasa ganjel buat akhir film ini.

Tapi balik lagi, film ini menurutku bagus sebagai film terakhir dari kisah Evangelion. Ya, setidaknya sampai yang bikin memutuskan untuk membuat projek baru lagi. ๐Ÿ™‚

Dan bila memang mereka pengen bikin projek baru lagi, plis bikin film drama romance remaja aja. Ala-ala Makoto Shinkai gitu lah. Pasti akan lebuh banyak penonton kasual yang tertarik. ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.