Mengikuti JLPT (Japanese-Language Proficiency Test)

Jadi kali ini aku mau nulis tentang pengalaman pertamaku mengikuti JLPT.

Apa itu JLPT? JLPT itu singkatan dari Japanese-Language Proficiency Test. Alias tes kecakapan berbahasa Jepang. Semacam Toefl kalau di bahasa Inggris. Kenapa aku bisa ambil tes ini? Aku mau cerita dikit. Dikit aja boleh kan ya? 🙂

Jadi ditengah kegabutanku sebagai pengangguran akhir-akhir ini, tiba-tiba terbersit ide sok untuk belajar bahasa Jepang. Ga tau itu ide muncul dari mana, tapi ketimbang aku nganggur banget, ya jadi aku nyobain buat ambil kursus semacem les gitu. Dan karena kemudian Sensei ku ngomong kalau belajar bahasa itu harus punya motivasi dan tujuan biar bisa cepet bisa, maka dari beliau lah aku tau yang namanya JLPT dan kemudian mendaftar. Dan ga tanggung-tanggung daftarnya N4. Buat informasi sih JLPT itu punya tingkatan. Dari paling rendah N5 sampai yang paling tinggi N1.

Yah sebenernya bukan sok-sok an juga sih. Itu lebih tepatnya karena aku ga tau apa-apa tentang bahasa Jepang. Lebih tepatnya meremehkan. Karena waktu itu daftar ku di bulan Agustus untuk test yang bulan Desember. (Betewe, JLPT hanya dilakukan 2 kali dalam setahun. Awal bulan Juli dan awal bulan Desember) Jadi ada waktu 4 bulan buat belajar. Kupikir cukuplah bila ku kebut. Dan karena bahasa asing yang ku kuasai hanya bahasa Inggris doang, jadi pikiranki pasti tidak akan jauh-jauh dari itu. Secara sama-sama bahasa asing.
Lalu aku kualat karena meremehkan sesuatu. Ternyata bahasa Jepang itu super ribet. Mulai dari pola kalimat yang kalau dalam bahasa Indonesia atau bahsa Inggris pake model SPO, dalam bahasa Jepang pakenya SOP. Yang bikin jadi, kalau denger, baca, atau ngomong harus dipeoses dulu karena belum terbiasa dengan pola yang kebalik-kebalik. Belum lagi harus belajar sistem tulisnya, karena kalau ngga, ya kita ga bisa bacanya. 😦
Ada Hiragana, Katakana, terus ada Kanji yang punya banyak cara baca dan bikin tambah ribet kaya kisah roman sinetron langit-langit di SCTV itu. Tapi karena sudah terlanjur, ya udah sih dikejar semaksimal mungkin aja.

Oke sudah kelar ceritanya, jadi balik ke test JLPT nya.
Cara daftar test nya itu lewat web official nya : https://jlptonline.or.id.

Biasanya pendaftaran dibuka 4 bulan sebelum test. Biaya pendaaftaran berbeda di tiap levenya. Untuk N4 kemarin aku kena 180k, tapi selisih antar levelnya ga banyak kok. Sekitran 10-15k kalau ga salah inget. Setelahnya kita akan mengisi data diri, beberapa angket pertanyaan, dan setelah itu melalukan pembayar. Kurang lebih sebulan sebelum ujian, kita akan mendapat email pemberithuan tentang tempat, waktu, dan tatacara mengikuti ujuan.

Kartu ujian

Kemarin aku ambil test N4 nya di Jogja. Yang tanggal 1 Desember 2019. Tempat ujian nya di SMKN 2 yang di jalan A.M. Sangaji, pinggir jalan deket sama perempatan. Karena ini yang pertama kalinya buatku, Jadi aku berangkat awal banget buat cari tahu lokasi tempat ujiannya itu. Akhirnya tiba di SMNK 2 satu jam sebelum ujian dimulai, kemudian cari-cari tempat ujiannya terus nunggguin deh.
Kelas yang dibuat untuk tempat ujiannya bagus, dan karena daftarnya cepet-cepet kemaren, jadilah aku dapat urutan nomer 4, yang berarti duduk di baris depan dari kurang lebih 30 bangku. Tapi ada 2 bangku kosong, alias pesertanya ga dateng. Bangku nomer 3 dan 6. Rata-rata perserta ujiannya adalah anak muda. Mungkin anak-anak SMA yang mau nerusin kulih di tempat tertentu yang membutuhkan hasil JLPT, atau anak-anak kuliahan yang butuh lolos JLPT untuk syarat wisuda. Yang sebayaku, kalau berdasar dari ‘Judge by it cover‘ mungkin cuma 3-4 orang aja. Mungkin mereka yang mau ambil kerja ke Jepang, atau yang mau naik jabatan di perusahaan Jepang tapi perlu lolos JLPT, atau mungkin yang kaya aku, ga jelas alasannya. 😀
Terus dalam ruang ujin itu yang boleh ada di atas meja cuma alat tulis tanpa kotak ato wadanya (mungkin biar ga bisa ngérpek kali ya?), terus kartu identitas, dan kartu ujian, eh bukan kartu ujian ding, tapi lembar identitas ujian, karena emang bentuknya lembaran bukan kartu. Hape ga boleh nyala, meski cuma dalam mode silent. Bahkan jam tangan tidak boleh nyala bunyi alarmnya. Kalau melanggar langsung di diskualifikasi.

Yang jaga mbak-mbak lucuk berjilbab berkacamata, yang menjelaskan semua tatacara ujian sebelum ujian dimulai.
Lalu kemudian dikasih lembar jawaban rangkap 3 yang terus disobek-sebok kaya nyobekin tiket bioskop gitu. Kenapa ada 3 lembarjawaban? Itu karena dalam ujian nanti kita akan mengerjakan 3 kategori ujian.
Lembar pertama warnanya tulisannya merah, itu buat ujian kosakata (Vocabulary). Yang kedua warnanya tulisannya unggu itu buat ujian tata bahasa dan membaca (Reading). Yang terakhir warnanya tulisannya coklat itu buat ujian mendengar (Listening).

Yang ujian kosakata itu waktunya 30 menitan gitu, capeknya ngitem-itemin lembar jawaban kaya ujian UN gitu. Lelah lenganku. Huft…
Terus makin maju makin intens. ada jedah istirahat perkategori ujiannya. Sekitar 15 menitan.
Buat yang ujian membaca waktunya lebih lma sekitar 60 menit, tapi itu semakin naik nomor soalnya, bacaannya makin banyak. Jadi harus baca cepet gitu, sedang aku bru aja bisa baca 4 bulan yang lalu. 😦
Kemudian untuk ujian mendengar memakan waktu 35 menit. Jadi di ujian ini kita akan diperdengarkan rekamn percakapan dan pertanyaannya melewati speaker di ruangan kelas. Untuk kualitas suara dari speakernya sih kedengeran baik, tapi masalahnya adalah suara motor dari jalan raya di perempatan yang lumayan ramai itu lebih kenceng. Double Sad 😥
Tapi karena tujuanku ambil test ini adalah murni buat nguji kemampuan, jadi ga terlalu ku jadiin beban. Ku anggap kendala-kendala itu tadi sebagai sebagian dari ujian juga. Mungkin beda ama peserta lain yang harus sebisa mungkin lolos test tersebut.

Kemudian pertanyaan ultimate nya adalah, apakah dengan belajar dalam waktu 4 bulan, aku bisa ngerjain soal ujian N4? Ngga, 😀 hahaha.
Ya setidaknya aku sudah bisa membaca dan paham maksud dari soalnya, yang ditulis seluruhnya dengan campuran Hiragana, Katakana, dan Kanji.
Untuk kategori pola kalimat dan baca cerita itu jauh lebih mudah ketimbang buatku ketimbang yang kosakata. Yang banyak banget kata atau huruf Kanji yang aku belum pernah tahu atau belajar. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah kategori itu jauh lebih sulit dari pada ujian mendengar. yang sepertinya banyak kalimat yang aku bisa pahami ketimbang yang kosakata itu tadi.
Tapi entahlah hasilnya gimana, menurut situs web nya sih bakalan diumumin nanti di bulan Maret atau April gitu kalau ga salah inget. Yah, yang penting sih tetep pesimis aja, hehehe…..

Oke, sampai disini dulu tulisanku tentang mengikuti ujian JLPT kali ini. Nanti bila Maret ternyata aku ga lolos, ya, mungkin Desember 2020 aku bakalan ikutan lagi. Kalau lolos ku bakalan share cara belajar ku. 8)

Semoga tulisan ini ada manfaatnya, terima kasih sudah baca, dan sampai jumpa lagi. また あう