The way of ngidol

Oke, baru ada waktu ama mood buat nulis tentang #liveishobby lg, makanya krn bakalan jd tulisan yg panjang, ak lgs mulai cerita tentang the way of ngidolku sahaja. Letzgoikuzo!!!

Jd 2th ku ngidol Near telah merubah cara dan pandangan ngidol ku secara keseluruhan. Quotes of the week : Dalam hal ngidol, LDR jauh lebih menyenangkan. Sungguh!

Jd krn ngidol adalah hobby dan tujuan utama hobby adalah untuk bikin happy, maka inti ak ngidol ya buat cari kesenengan. Cm klo dulu pas ak masih Far dr teater, cara ak merasakan kesenengan itu adalah saat ak bisa mendukung idol fav ku secara penuh. Support lewat sosmed (kasih inputan2 positif, saran, dan semangat), bikin2 project, smp voting2an.

Krn apa? Mungkin krn bagiku dulu idol itu seperti sosok karakter impian yg hrs kita dukung sepenuh hati utk bisa ‘ceria dan bersinar’ kek bu GM.
Makanya, kek video game, kita akan merasa sangat puas saat sang karakter bisa menembus level tertentu, ato dlm hal ini sang idola bisa berhasil dlm dunia peridolan yg keras. (Masih terekam jelas, dulu pas pengumuman SSK pertama ada yg disebut diurutan ke 10, ak teriak2 kegirangan kek org bego. Efek dr setelah berhari2 ngubek2 combini se Kampung Kali cm buat cari tiket vote. Passionate sekali saya waktu itu :v)
Smp pernah terpikir ak bakalan bisa lbh penuh dukung nya kalo ak bisa jd Near dgn teater. Setidak nya bisa liat doi perform, teriakin namanya, kasih semangat pas HT, bisa gampang dateng di acara ato event2. Yah setidaknya itu yg dulu kupikirkan.

Tp kenyataan berkata lain. Menjadi lebih dekat dgn idola, dan sedikit banyak mengenal ‘jati diri’ mereka secara lgsg itu merubah segala paradigma ku tentang melakukan support ke mereka. Apa lg setelah mulai kenal ama fans ‘super’ Near, fans ‘intimately’ Near, ato fans ‘personally’ Near.
Gelombang gesrek dan baper datang silih berganti. Ngebuat ak yg msh nubi Near ini hrs merasakan rasa bangga dan minder disaat yg bersamaan. (cie ileh bahasa ku, ahay bgt :v)
Sedikit iri dan kagum ama fans dgn predikat ‘teman’ ato ‘skyman’ yg pny japri kusus lgsg ke si idol, ato yg scr spesifik di denger, di gugu, lan di kepoin ama si idol. (Yah, maklum kan org udik yg baru masuk kota :v tp kenyataan fans tipe itu emang bener ada! smp skrg!) Tp ak kan hrs kuat yak?
Jadi sebenernya Idol itu ga adil ama para fans nya? Yah, siapa jg yg bisa adil di dunia ini? Kehidupan aja ga adil kok, ahay! :v Jd ak belajar beradaptasi disini a.k.a belajar buat jd tipe fans tersebut diatas :v :v :v

Knowledge is a sin. Dan ga mungkir klo hal itu (mengenal ‘jati diri’ mereka) membuatku merasa exclusive. Merasa jd lebih dekat. Seolah kini gantian ak yg naik level. Keimbaan sekali.
Namun kemudian sesuatu yg kita dapati setiap hari itu membuat nya jd tidak special lg (meski pake telor)

Dalam waktu ga lebih dr 6 bln, sosok karakter impian itu mulai menjelma sebagai manusia. Dewi teater itu berubah menjadi mere performer. Mengecewakan? Nggak. Mungkin sedikit sih iya klo boleh jujur, tp semua hal itu msh blm merubah rasa suka ku ke mereka, ga jg merubah dukungan ku ke mereka. Tp jelas itu merubah semua cara ku memperlakukan mereka, jg merubah ekspektasi ku ke mereka.
Ak mulai membuat pemakluman2 dgn diriku sendiri saat mendapati ketidaksempurnaan mereka. Dan begitu seterusnya. (Cara ngidolku bermutasi) Sampai lewat setahun, tanpa kusadar cara ngidol ku sudah bener2 berubah.

Sekarang ak merasa lbh hepi saat berinteraksi dgn sesama fans, meski hny sekedar membicarakan kegesrekan dan waro yg konyol dan ga masuk akal. Entah knp melakukan interaksi dgn idol tdk jd prioritas kesenanganku sekarang. (mungkin krn ak sudah biasa melihat dan mendengar mereka diluar ‘panggung’) Mencari perhatian sang idol agar di notice pun serta merta agar dpt dipamerkan ke sesama fans. Bkn krn beneran ak pengen di notice doi. Aneh memang, tp nyata. Nonton teater ato bersosmed pun kini sekedar krn pengen ‘gila’ nyari hiburan diluar kehidupan sehari-hari.

Dan hal itu berdampak pada caraku melakukan support. Ak masih ttp support mereka tp tdk ‘jor-joran’ lg skrg. Dan jg krn mulai mengendurnya ikatan sentimental ama idol tertentu (bahasaku baper bgt :v), membuatku menanamkan idiom baru dlm sanubari buat melakukan support ke mereka. :v
Yaitu : Waro adalah koentji. Jd dukung siapa aja yg berwaro, dan lupakan istilah support tulus. :v

Terakhir, apakah aku nyesel jd Near? Nggak juga, walau terkadang ak rindu merasa penuh gairah dan semangat buat ngendukung mereka, tanpa memperdulikan sisi ‘fakta’ nya.
Krn menjadi Near ak jd bisa dpt bnyk temen, dan selalu merasa hidup diantara kreatifitas. Merasa ‘mengenal’ mereka (walau hny ungkapan sepihak ku sahaja) ya sukur2 diingat pernah jd bagian dlm hidup mereka, meski di part bodoh nya :v Krn klo kata Siska YOLO, so enjoy it! 😀

Jd itulah ceritaku tentang bagaimana menjadi Near merubah segala tata cara ku beridol. Okey, krn Desy udah buru2 ngajakin belanja buat sincia besok, jd sampai ketemu dalam kisah, lagu, dan cerita lain nya ya…

Bye!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.